LIBATKAN DELEGASI NASIONAL DAN INTERNASIONAL, KEMENPAR KEMBALI GELAR TEMU BISNIS WISATA HALAL KE-2 TAHUN INI
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bekerjasama dengan Keluarga besar Halal Travel Konsorsium (HTK) dan Asoasiasi Travel Halal Indonesia (ATHIN ) kembali akan menggelar Temu Bisnis Wisata Halal Ke-2 tahun ini. Rencananya, acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2017 mendatang di Hotel Balairung, Jakarta.
Menurut Deputi Bidang Pengembangan
Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti didampingi Kepala
Bidang Penguatan Jejaring Asdep Bisnis dan Pemerintah Kemenpar Hidayat,
kegiatan ini terinspirasi dari kesuksesan Temu Bisnis Wisata Halal
pertama tahun 2016 lalu yang dihadiri lebih dari 120 pelaku bisnis
wisata family fariendy nasional dan internasional.
Ia mengatakan, perhelatan ini juga akan
melibatkan delegasi international diantaranya adalah delegasi Turki,
Jepang, Indonesia dan masih banyak negara lainnya. ”Untuk pelaksanaan
yang diprakarsai oleh HTK dan ATHIN yang kedua ini akan lebih banyak
lagi melibatkan pebisnis wisata halal dunia,” ujar Esthy.
Lebih lanjut Esthy menambahkan, acara
ini menjadi bagian perjuangan Kemenpar dan industri pariwisata untuk
terus memajukan wisata halal yang saat ini disebut family friendly di
Indonesia dan dunia sehingga makin mendunia.
Peserta yang hadir di acara yang kedua
ini adalah vendor dan reseller wisata halal dari Indonesia dan Luar
Negeri seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea, Australia dan
Eropa, yang direncanakan akan hadir 300 peserta. Acara ini juga
sekaligus perayaan hari ulang tahun yang pertama untuk forum HTK dan
ATHIN.
”Transaksi wisata family friendly
Indonesia dan dunia yang terus mengalami peningkatan disertai kemajuan
digital marketing menjadi tantangan yang harus dihadapai semua palaku
wisata ini, semoga ajang temu bisnis ini jadi momentum kemajuan
pariwisata family friendly di Indonesia,” kata Esthy didampingi Hidayat.
Chairman HTK, Cheriatna menambahkan,
dalam rangka memperkenalkan dan lebih mensosialisasikan konsep Wisata
Family Friendly dan Travel Konsorsium ini maka panitia dan Kemenpar
mengadakan acara ini.
”Poinnya adalah untuk mempererat jalinan
silaturahim para vendor dan anggota, agar kerjasama antar sesama
rekan-rekan vendor dan reseller HTK dan ATHIN dapat terbina seterusnya.
Selain itu, kami juga ingin menjelaskan tentang konsep wisata halal
secara lebih mendalam sehingga para vendor dan reseller lainnya semakin
paham akan penerapan wisata halal,” kata Cheriatna.
Selain itu, imbuh Cheriatna, acara
tersebut mampu menghasilkan terjalinnya kerjasama yang saling
menguntungkan dan terjadinya peningkatan sales transaksi perusahaan
peserta.
“Terutama dalam hal peserta mengetahui
perkembangan dan kemajuan wisata halal dalam dunia digital marketing,
menambah wawasan para peserta acara yang merupakan anggota forum Halal,
travel konsorsium karena wisata halal memiliki banyak manfaat dan
membawa keberkahan yang melimpah untuk pariwisata Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief
Yahya mengatakan, Indonesia telah berhasil naik satu peringkat dalam
Global Muslim Travel Index (GMTI) 2017, dari posisi ke tiga dari posisi
empat. Ke depannya ia meyakini Indonesia bisa melampaui Malaysia dan UEA
yang kini di peringkat dua teratas.Tapi, kata Menpar, Indonesia masih
punya pekerjaan rumah.
“Kekuatan yang jadi kelemahan kita
adalah halal. Kita yakin halal tapi tidak mau sertifikasi, padahal itu
daya tarik konsumen,” kata pria asal Banyuwangi itu.
Menurut Menpar, untuk benar-benar bisa
meraih potongan besar pasar wisata halal, Indonesia harus benar-benar
menyiapkan wisata halal. Panduan industri wisata halal dunia seperti
GMTI bisa jadi acuan Indonesia untuk membenahi wisata halal.
“Semua PR wisata halal Indonesia
termasuk infrastruktur, kebersihan dan higienitas, harus bisa
dikuantifikasi sehingga arah perbaikannya jelas,” ujar Arief.
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata
Family Friendly, Riyanto Sofyan menyebutkan, untuk menggaet pangsa
pasar tersebut pihaknya telah menyiapkan empat pilar pengembangan wisata
ini. Pilar pertama yakni terkait kebijakan dan regulasi. Berbicara
kedua hal tersebut tentu sangat berkaitan dengan pemerintah pusat dan
daerah.
Pilar kedua yaitu pemasaran. Menurut
Riyanto, destinasi wisata harus melihat kebutuhan pasar. Adapun pilar
ketiga dan keempat terkait dengan pengembangan aneka atraksi dan akses
transportasi.
“Hal itu bertujuan supaya wisatawan
merasa nyaman dan sesuai dengan tujuan wisata family friendly.
Peningkatan kapasitas untuk jaminan kontrol supaya wisman bisa kembali
lagi. Kita harus cocokan atraksi yang sesuai dengan wisata halal,”
katanya.Sumber ; gomuslim.co.id

Comments
Post a Comment