SALIMUNZAMAN PELOPOR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PAKISTAN



JAKARTA -- Sepak terjang Salimunzaman Siddiqui dalam bidang sains tersebut membuatnya dipercaya menduduki posisi penting. Pada 1940, Siddiqui menjadi direktur Indian Scientific and Industrial Research (ICSIR), Kalkutta. Dia juga mendedikasikannya sebagai dosen dengan 40 siswa, di mana 38 siswanya beragama Hindu.

Ketika terjadi kerusuhan 1947 demo anti-Islam, siswanya melindungi dia dalam perjalanan pulang dari laboratorium hingga ke rumah. Pada 1948, dia dipanggil oleh Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru dan mendapat surat dari PM Pakistan Liaquat Ali Khan untuk mengabdi di Pakistan.

Pada 1951, di Pakistan Siddiqui mendirikan banyak laboratorium di bawah lembaga Dewan Penelitian Ilimiah dan Industri Pakistan. Laboratorium di antaranya berada di Lahore, Dacca, Rajshahi, Chittagong, dan Peshwar.

Dia pun menjadi pelopor penelitian dan pengembangan di Pakistan. Pada 1961 dia mendirikan Dewan Ilmu Pengetahuan Nasional Pakistan (PSCIR) dan ditunjuk sebagai ketua pertama.

Pada tahun yang sama, dia menjadi anggota The Royal Society dan mendirikan Akademi Ilmu Pengetahuan Pakistan dan India. Dia pensiun pada 1966 dari PSCIR dan mulai bekerja di lembaga peneilitian pascasarjana Karachi Hussain Ebrahim Jamal.ed: nashih nashrullah

Penggemar Seni dan Sosok Sederhana

 Salimunzzaman Siddiqui tidak hanya memiliki kemampuan mumpuni dalam bidang sains, tetapi dia juga menggemari karya seni. Semasa kecil dia serius mempelajari sastra Persia dan filsafat 

Siddiqui memang selalu menghabiskan masa kecilnya dengan bacaan, seperti Tilism e Hosh Ruba dan Daastan e Amir Hamzah. Terkadang dia juga hanya sekadar mengamati dan berpikir. Dia juga menyelesaikan lima buku berbahasa Urdu dan bahasa Persia dasar Ismail Meeruthi selama pendidikan awalnya di rumah.

Setelah mendapat gelar sarjana sastra, Siddiqui melanjutkan kuliah di Universitas College London untuk belajar ilmu kedokteran pada 1920. Setelah menempuh pendidikan paramedis selama satu tahun, dia kemudian pindah ke Universitas Frankfurt pada 1921 untuk belajar kimia.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1924, dia pun menikahi teman sekelasnya di Jerman, Ethel Wilhelmina Schneeman. Pada tahun yang sama, dia membuat sketsa dan gambar pertamanya yang dipajang di Galerie Schames, Frankfurt.

Karyanya tersebut dipamerkan bersama pelukis, seperti Emile Nolde dan Muller. Bahkan, surat kabar terkemuka memberikan penghargaan terhadap karyanya.

Siddiqui mendapatkan gelar doktor filsafat pada 1927 di bawah pengawasan profesor kimia Julius Von Bram. Bersamaan dengan itu, lukisannya pun dipamerkan di Uzielli Gallery, Frankfurt.

Siddiqui mendapatkan penghasilan pertamanya dari pameran keduanya ini. Dia mendapatkan seribu tanda emas.

Selain menempuh pendidikan, dia juga bekerja di laboratorium Universitas Frankfurt. Dia bekerja dari pukul delapan pagi hingga delapan malam. Pada waktu yang sama, Jerman mengalami inflasi sehingga dia kehilangan seluruh uangnya.

Dia pun kembali ke India dan kemudian seorang filantropis Hakeem Ajmal Khan mengiriminya uang skitar 400 rupee setiap bulannya. Untuk membalas kebaikannya, dia mendedikasikan penemuannya untuk Khan. Khan juga dikenal sebagai praktisi sistem pengobatan Unani yang terkenal di Asia Selatan.    

Siddiqui adalah orang yang sederhana. Dia tidak pernah memikirkan ketenaran dan kekayaan, bahkan hingga 1990 dia masih datang ke laboratorium.

Sejak kecil dia selalu berpikir untuk melakukan hal besar dan bekerja untuk kemajuan manusia. Hingga dia mendirikan berbagai laboratorium di Pakistan dan India, tetapi tak memikirkan untuk membangun rumahnya sendiri.
Dia mengembuskan napas terakhirnya pada 14 April 1994 dalam usia 97 tahun.

Sumber ; republika.co.id

Comments