Jakarta -- Ketua Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akhmad Akbar Susamto mengatakan Indonesia perlu didorong untuk turut serta dalam pengembangan bisnis halal global. Potensi Indonesia sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia menjadi salah satu alasanya.
Menurutnya, bisnis halal global saat ini
berkembang cukup pesat. “Potensi halal begitu pesat perkembangannya,
cepat, dan pesat, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia," katanya
dalam diskusi 'Meraup Peluang Bisnis Halal Global' di Jakarta, Selasa
(23/05/2017).
Lebih lanjut, Akhmad menuturkan pelaku
bisnis yang tidak mengambil peluang di tengah perkembangan pasar ini
akan ketinggalan. Mengingat, potensi pasar halal yang cukup besar. Pasar
halal dunia pada 2015 sebesar US$1,9 triliun, atau setara Rp25.264
triliun. Angka ini diprediksi meningkat menjadi US$3 triliun, setara
Rp39.890 triliun pada 2021.
“Cakupan halal makin lama makin luas.
Kalau dulu, kenalnya bank syariah dan makanan minuman halal, sekarang
sudah berkembang menjadi kosmetik dan pariwisata halal. Peluang bisnis
halal semakin besar," kata dia.
Selain itu, lanjut dia, sektor industri
halal dapat didorong untuk memberikan kontribusi pada perekonomian
nasional. Sebab sektor ini secara global tumbuh sangat pesat. “Ada lima
pintu industri halal untuk berdampak kepada perekonomian," katanya.
Cara pertama adalah memberikan nilai
tambah kepada produk. Akhmad mengatakan, industri halal memberikan
kenyamanan yang tidak diberikan oleh industri lain kepada konsumen
Muslim. “Pintu yang ke dua adalah meningkatkan permintaan untuk produk
yang berbeda," ungkapnya.
Akhmad mengatakan, industri halal akan
menghasilkan produk berbeda yang bisa menarik konsumen Muslim. “Yang ke
tiga adalah mendiversifikasi supply sehingga bisa meningkatkan
kompetisi," ucapnya.
Sedangkan cara ke empat yaitu memicu
produsen produk halal untuk bernovasi, sebab pasar halal begitu dinamis.
Dan yang ke lima, meningkatkan standardisasi kualitas halal. Akhmad
mengatakan label halal ini awalnya sertifikat halal berkaitan dengan
agama, namun perlahan-lahan menjadi simbol kualitas yang bagus.
Produk yang memiliki label halal harus
memenuhi standar seperti keamanan, kehigienisan dan sanitasi, serta
penanganan produk. “Ke depan kami berharap hal-hal ini bisa menggerakkan
pertumbuhan ekonomi," tutupnya.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata Arief
Yahya mengatakan Indonesia masih punya pekerjaan rumah dalam
memaksimalkan potensi halal. “Kekuatan yang jadi kelemahan kita adalah
halal. Kita yakin halal tapi tidak mau sertifikasi, padahal itu daya
tarik konsumen,” kata Arief.
Sumber ; gomuslim.co.id

Comments
Post a Comment